Selasa, 10 Oktober 2017

GENEALOGI KITA

1/
kepada segala yang berpulang; sedari gigil di puncak gunung
hingga segenang payau di sela-sela akar bakau—matahari berjanji
akan menggelar ngaben di rahim laut, menebar benih-benih waktu
kemudian menanamnya di ambang ketinggian. angin lalu berpesta,
memanen derai usia untuk semua penantian yang ingin dilahirkan
sebagai titisan hujan. menghuni denyut. menghirup hidup.

tetes demi tetes jatuh; biji demi biji yang bertapa sejak kemarau
pun tersentuh, maka doa-doa tanah menguap menjadi seungkap diam
yang megah. pohon-pohon menumbuhkan oksigen, seluk-beluk sepi
menjelma puting susu. siang serupa ayah dan malam seumpama ibu.
terik cahaya membimbing rekah bunga. ricik sungai menenangkan
tangis akar padi.

Minggu, 16 Juli 2017

Lengger Lanang dan Kesaksian Otniel Tasman


“Sejauh mengenal lengger, saya seperti punya agama tersendiri. Ketika berdandan selayaknya perempuan, menari di hadapan penonton, itulah surga nyata yang saya rasakan.”

Ia mengenal tari dari panggung dangdut, kelas tiga SD—dan tak lama setelahnya berhasil menjuarai joget agustusan. Beranjak kelas empat, gerak Jawa Klasik mulai menertibkan tubuh egaliternya. Cerita pun segera berulang: Otniel kecil menjuarai tari gagahan tunggal tingkat kecamatan. Ketika menempuh kepenarian di SMKI Banyumas, meskipun sering bolos sekolah, ia sudah menari di Jakarta untuk perayaan Hari Baca Buku Sedunia. Pada bulan-bulan tertentu, Otniel remaja memang kerap kebanjiran job menari cucuk lampah; dari satu hajatan manten ke hajatan manten lainnya, dari satu kampung ke kampung lainnya, dari satu pelosok gunung ke pelosok gunung lainnya. “Sampai bosan,” selorohnya. Tapi ia senang menyaksikan dirinya bisa menjadi seorang remaja berpenghasilan. Secara halus, Otniel menolak kalau dikatakan gemar membolos. “Jaraknya jauh. Lagi pula, kelas sering kosong. Muridnya cuma delapan orang. Gurunya banyak yang sudah sepuh. Gimana lagi, satu-satunya SMKI (yang saat itu) berstatus swasta dari delapan SMKI yang ada di seluruh dunia.” Ia tertawa.
Semulai belia, Otniel dikenal multi talenta dan punya ketenaran. Selain menari, ia juga pandai menggambar, nembang macapat, bermain piano dan suling. Tapi sejak menyentuh gerak Jawa Klasik—meskipun pada akhirnya tak berselera dengan aura ke-adiluhung-an khas keraton raja-raja, ia merasa jiwanya hidup dari dan untuk tari. Bahkan, ketika masih SMP, telah ada bayangan ISI Surakarta di dalam benakya. Otniel remaja telah paham dan orang-orang di sekitarnya turut menyaksikan: anak muda yang ditinggal minggat bapaknya ketika masih berusia tiga tahun itu, kelak, akan menjadi penari kondang. Yang banyak orang tidak tahu: sang ibu, sebenarnya, ingin menyaksikan anak terkecilnya tersebut dewasa sebagai seorang pendeta.

Minggu, 11 Juni 2017

sebuah cara menceritakan diri sendiri


apakah diam adalah dusta?"
    (sebelum sendiri, hal 20)

barangkali, diam menjadi satu-satunya cara tersisa untuk mengalami kejujuran. atau semacam kejujuran. kau tentu tahu, an, bagaimana ia tersimpan di dalam kata dan bertumbuh di dalam bisu. seperti telur yang kita erami dengan diri paling sepi. tapi kata telah lebih dulu mengabadikan sebuah jarak, antara “kebenaran yang diambilnya” dan “kebenaran yang ditinggalkannya”. saat kata kita dengar atau ketika kata kita ucapkan. barangkali karena itulah diri tak pernah lengkap, sebab kata tidak pernah cukup.
agaknya kau memilih sajak (baca: puisi) untuk menjamas kata—sebagaimana seorang jawa memulihkan persona keris dari karat dan kepudaran. apakah kau mengidamkan semacam kemurnian, dengan menghapus alamat dan keyakinan? pula menyatakan, bahwa lebih indah membaca bibir yang tidak mengucapkan apa-apa atau bertanya kepada langit yang tak hendak menjawab, melalui mata pengemis tua yang masih menyimpan cita-cita masa muda.

Senin, 10 April 2017

Testimoni Pembaca

Dari Fandy Ahmad
Kolektor Mitos di Bromo (Foto by Dwi Rizki)
"... dalam jeda itu, nampaknya akulah yang kelabakan memperlakukan rindu. Aku mulai menemukan Rani dengan cara - cara yang memalukan, dari tempat - tempat yang juga memalukan. Seperti penyair-penyair tengil mengingat kekasihnya. Aku tidak mengerti mengapa menyukai bau pagi, desah hujan, dengkur kesunyian. Bahkan dari uluran memilukan seorang pengemis, empatiku bisu, aku justru khusuk mengingat Rani hanya karena mereka memiliki letak tahi lalat sama dan bentuk hidung sangat mirip. Tak lama, rindu itu sungguh keterlaluan. Memaksaku mengakhiri jeda secara sepihak."
Menurut saya Halim Bahriz adalah pakar tubuh. Semuanya, semua bagiannya. Sampai ia tahu apa yang sel-sel tubuh rasakan, yang kita sendiripun tidak tahu. Jeritan tubuh di alam fisik maupun metafisik mampu dibahasakannya. Kadang ia bisa melihat tubuh yang luka, yang tidak harus berdarah. Tubuh yang rapuh, bukan karena candu tapi rindu. Kita seolah berbicara dengan tubuh, dengan atau tanpa software, lewat Kolektor Mitos. Saat kamu tidak mampu membahasakan perasaan ketika "matamu yang bertabrakan dengan matanya," serahkan kepada Halim, maka (peristiwa tabrakan itu) akan jadi catatan yang menyayat-nyayat, yang sakitnya itu DI SINI! Hahah... Makasi Kaka Halim, bukumu Fuk tenan!

Mitos Penyair yang Menulis Cerpen


Oleh Kholid Rafsanjani
Kolektor Mitos di Alun-Alun Lumajang (dok.pribadi)
Pada kisah terakhir dalam kumpulan cerpen Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya pembaca mungkin akan terkejut. Bahwa sebuah cerita pendek pada satu komposisi tertentu akan menguras waktu pembacanya. Ia tidak mau dibaca dalam waktu sekali duduk. Sebab penulis sepertinya sengaja meramu tiap lapis cerita dengan koleksi kepanikan, yang dikumpulkan sepanjang persinggahannya dari satu rumah ke rumah lainnya.

Saya mungkin satu dari sekian banyak pembaca yang mengira Kolektor Mitos dan Cerita Lainnya, lebih mirip puisi prosais. Ada cerita yang ditulis di luar kesepahaman umum sebuah cerpen, alih-alih dilabeli sebagai cerpen.

Ignas Kleden pernah menulis esai tentang penyair yang menulis cerpen. Baginya, tidak semua penyair mau dan sanggup menulis cerpen[i]. Sekalipun memang ada penyair yang menulis cerpen, namun namanya sebagai cerpenis tidak cukup terkenal. Sitor Situmorang lebih dikenal sebagai penyair yang menulis Malam Lebaran. Begitu pula dengan Goenawan Mohammad yang menulis Asmaradana, dan Sapardi Djoko Damono yang menulis Hujan Bulan Juni. Meski Sapardi akhirnya menerbitkan kumpulan cerpen pertamanya, Pengarang Telah Mati, tidak lama setelah esai Kleden terbit di Horizon pada Juni 2001.

Menjadi sebuah catatan penting pula ketika seorang penyair menulis cerpen. Karena penyair umumnya tidak hanya mereproduksi kata-kata dan bahasa, tetapi ia juga mereproduksi makna yang menolak menjadi absolut. Penyair menawarkan sifat puitis. Menghadirkan kata-kata yang tidak hanya menjadi kapal barang pengangkut konsensus bahasa. Misalnya pada satu nukilan cerpen Hujan yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri.
Dan ia pun kini paham, hujan di luar mengajak bangkit hujan di dalam dirinya. Nyanyi hujan di atap, lambaian hujan pada dedaunan, dan kaki-kaki hujan di halaman terus memanggil-manggil. Hujan bukanlah sekedar gemertap di kaleng Khong Guan, misalnya. Bagi Ayesha hujan adalah ucapan mededahkan sastra, nyanyi, musik dan tari.
Kleden menyebut cerpen tersebut maknanya sangat kuat, tanpa peduli makna-teks atau peristiwa di baliknya. Pada kumpulan cerpen Halim Bahriz, tiap teks yang disusun memang tidak sekuat cerpen Hujan yang ditulis Sutardji. Mungkin Halim tidak sepenuhnya mengamini kredo Sutardji yang menyebut kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, atau dari beban idea.[ii] Tetapi Halim memadukan makna prosais yang bergantung pada peristiwa dan referensi, dengan makna puitis yang menjadikan kata secara aktif menciptakan maknanya sendiri.
Dari bingkai jendela; Semarang menjauh serupa langit yang rebah, menjadi jutaan kunang-kunang yang seluruhnya putih. (Kolektor Mitos, halaman 26)

Selasa, 27 Desember 2016

Nasib Adalah Kesunyian Masing-Masing

“Seperti kata Viorg, tangis yang mengental di denyutmu, mungkin telah mengubah jantungmu menjadi kaldera; gramofon pemanggil para turis—dan mereka mengambil wajahnya sendiri. Air matamu turut beku dalam potret, tapi gagal mendapat penafsir. Mereka tak pernah mengira bahwa kaldera hanyalah sebuah bisul purba.” Kata Noe,tiga pekan sebelum cerita ini ditulis dan tiga pekan setelah jasadnya ditemukan nyaris tinggal belulang di ketinggian 2400 mdpl. 15 tahun sebelum muncul sebagian orang yang percaya bahwa sebuah pemandangan dapat membuat mata seseorang berair sejak sekian jarak sebelum mata kaki mereka menyentuh tepukan bibir sebuah telaga, meskipun telah banyak orang tahu bahwa hal murahan itu belaka kampanye turisme yang digawat-gawatkan. 15 tahun, 3 bulan, dua pekan, setengah hari, sebelum seseorang merasa gagal menemukan, apalagi memahami, “hal-hal tertentu” yang pernah ditulis kekasihnya di laman media sosial.

                   ***
 “Prediksi-Prediksi gaib tidak lebih dari gelak sendawa para pemabuk.” Noe membubuhkannya pada tautan sebuah tulisan yang ia bagikan melalui newsfeed media sosialnya. Ia benar-benar kesal setelah membaca kritik yang mengait-ngaitkan dirinya dengan Chairil, penyair legendaris yang karyanya tak pernah ia baca sejudul pun. “Bigot tua!” umpatnya, lalu menelpon pacarnya.
Pada usia 19 tahun, Noe telah menjadi penyair yang cukup diperhitungkan para kritikus. Puisi-Puisinya dianggap kelewat matang untuk usia yang pada umumnya masih pura-pura asyik mencicip pahit bir.  
Tapi ia tak mengertisebagaimana pacarnya yang juga tidak mengerti, mengapa Noe menanyakan hal-hal ini berikut kepadanya: “Bagaimana bisa, Estetika menjelaskan sesuatu yang sama sekali tak dijelaskannya? Bukankah penafsir tak perlu mengungkap hal-hal yang memang tak diperlukan? Bagaimana mungkin, puisi bagus menghasilkan pembaca yang buruk?”
Pada mulanya, ia tidak terlalu tertarik dengan puisi; dan lebih menyukai sejenis dongeng humor, atau kisah dokumentatif pembantaian massal. Sampai suatu ketika, ia temukan Gramofon Sebuah Kaldera, buku puisi Josh Viorg, seorang Penyair kenamaan asal kepulauan Solomon. Tapi tidak begitu populer di negara Noe tinggal. Sejak itu, ia percaya: ada yang ajaib di dalam kata-kata.
Ia mendapat buku itu dalam bazar buku tahunan; yang sebenarnya tak menarik minatnya untuk membeli. Pemilik lapaklah yang memberikan buku itu padanya sebagai ganti uang kembalian yang nominalnya tak seberapa. Noe justru memborong buku-buku filsafat untuk keperluan kuliah. Ia tekun membaca Viorg; buku itu dibacanya berulang-ulang—dan tak lama setelahnya, ia gampang kesepian. Perasaannya hampa segera. Tak ada teman bercakap. Kelak, emosi inilah yang ia abadikan lewat puisi pertamanya.

KARIKATUR GESTUR; Instalasi Gerak Tentang Keseharian Kita

Catatan berikut bukanlah wacana penyutradaraan Toshiki Okada dalam workshop Art Summit Indonesia VIII, 14-16 November 2016 di Bandung—yang notulentif, melainkan hal-hal yang bergulat dalam kepala saya pada hari-hari setelahnya. Ini penting dan harus anda pahami sebagai yang demikian. Sebab kenyataan tidak bisa dikloning dan saya (atau siapa pun) akan mustahil bisa mewakili orang lain.


Hujan menginapi Bandung pagi, dengan lagak yang akan kembali terjaga sore nanti. Seperti hari-hari sebelumnya, biasanya. Seperti teks pada lembar-lembar wasiat musim di beberapa bagian lantai Bale Handap- Selasar Sunaryo Art Space yang luput terbaca berpasang-pasang sepatu. Lumut-lumut tipis yang hampir pasti mengubah topografi dari cara kita yang tak biasa berjalan di atasnya menjadi panorama gesturdan tentu saja; merupakan bagian, atau sebuah potensi, dari seni pertunjukan yang saya kira sudah semestinya wajar dipercaya oleh mata kepenontonan, taste penyutradaraan, pun mendapat pengakuan tubuh keaktoran.

Toshiki datang dengan aura yang dari kejauhan terasa mengabarkan lembab, ketimbang segar karena diulas kamar mandi. Dia duduk di kursi lipat. Tubuhnya segera mempraktikkan gaya duduk dalam suatu pose khas yang agaknya hasil didikan kultur di luar radiasi butoh. Penulis yang masih sangat muda namun lumayan ramai diperbincangkan “dunia teater” itu, tidaklah berwibawa, apalagi mengidap kriterium angker yang mencukupi. Sebagaimana yang dengan gampang terpancar dari wajah-wajah, sosok-sosok, seni pertunjukan Indonesia di era 90-an. Dalam ketampakannya, Toshiki Okada lebih mirip pekerja kantoran yang biasa ditokohkan drama televisi Jepang; gaji pas-pas-an, kesepian, dan sedang bersungguh-sungguh menyukai perempuan sekantor—yang jabatannya lebih tinggi nan tidak jomblo—secara diam-diam.

            *** 

Kemudian, setelah dramaturgi perkenalan yang aneh (dan rapuh) selesai digelar, berujarlah ia untuk meredakan ekspektasi yang terbuat dari ekspektasinya sendiri. “Workshop ini tak akan heboh,” selorohnya—seraya membuka pintu untuk mempersilakan kami dengan asyik-masuk dalam kecemasannya.

Kurang dari 30 menit, rasa-rasanya saya mulai meraba-raba suatu simpulan prematur: Toshiki tak mempercayai “kata” dan tak berselera dengan “ketubuhan teater” yang bertaruh, sekaligus menaruh semacam iman surealistiknya dalam gegat-gelagat purbawi yang terambil dari ajang kegelapan yang dasarnya nyaris tidak terukur lagi. Kecuali sebentuk panorama eksotis dari relung primordialitas. Juga kecurigaan bahwa dia bagian dari generasi kekinian teater jepang yang, secara sadar maupun tidak, tergerak untuk menegasi kemapanan pewacanaan butoh.

Separuh terpaksa, saya mengartikan sendiri apa makna “heboh” dalam maksud lelaki bermata sipit yang diimpor Art Summit Indonesia VIII untuk keperluan “produksi pengetahuan” juga “perluasan medan definisi” seputar apa itu teater. Lucunya—dan ini di luar dugaan Toshiki: workshop penyutradaraan yang berlangsung selama 3 hari tersebut, masihlah cukup “heboh”. Setidaknya, “agak heboh”. Seakan terjadi kegagalan meredam “kemapanan persepsi” atas apa itu “performance”. Juga, tentu saja: identifikasi dan-atau radiasi butoh pada teater (Indonesia) yang dibayangkan oleh dirinya sendiri.